Welcome to Ardi's Web

Home Up

VII. RESEARCH

 

1.Inventory Biological Resoruces in Tampomas Mount Nature Recreation  Park  Sumedang West Java (2001)

2. Inventory Indigenous Knowledge To Support Conservation In Villages Around Kerinci Seblat National Park -Jambi 1 Dec 1999-Dec 2000 World Bank, Integrated Conservation Development Project (ICDP) Small Research Grants 1999/2000

3.Making Carbon Briket  From Blotong As An Alternative Energy Resource For Home Using ( Jan-Mei 1998) Thesis for Bachelor Degree

   VIII. Articles

1.     Penembakan Macan Tutul (Panthera pardus) Di Kampung Cirawa Desa Sakawayana Kecamatan Malangbong : Suatu Kajian Bersama, (Panther Shooting In Cirawa Quarter, Sakawayana  Village, Malangbong Sub District : Discuss For Us)   (Surili Magazine. Vol.30 .No.1 Maret 2004  

2.     Pesona Elang Jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924) Di Sm Gn Sawal, (Charming Of Javanese Eagles (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924)  In Nature Preserve Forest Sawal Mount) Surili Magazine. Vol: 32.No.3 September 2004  

3.  Pengamanan BKSDA Jabar II tahun 2003

4.  Peredaran Flora dan Fauna 

http://www.kerinci.org/research_tnks1999.html

http://www.wrm.org.uy/deforestation/Asiabackground.html

 

Lembaga                

IMPALM, Palembang

Judul Penelitian               

Inventarisasi Potensi Kearifan Lokal yang Mendukung Konservasi di Desa-desa dalam Wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Selatan.

ABSTRAK

Potensi kearifan lokal masyarakat yang mendukung konservasi telah berhasil diinventarisasi di 5 desa penelitian, yakni: Lubuk Kumbung, Napal Melintang, Pulau Kidak, Napal Licin dan Kuto Tanjung.  Di desa Napal Melintang, terdapat larangan penangkapan ikan “sema” besar yang terdapat di sungai Lakitan, yang dianggap sebagai “penunggu” sungai. Pembukaan lahan di dalam area BW (kawasan hutan yang dilindungi sejak jaman Belanda) tidak diperkenankan, dan peran Kepala Desa sangat besar dalam perijinan pembukaan hutan di luar area BW.  Di desa Lubuk Kumbung ditemukan bahwa masyarakat tidak menggunakan pupuk anorganik dan pestisida, serta lebih mengutamakan bertani dan berkebun daripada mengambil hasil hutan.  Pembukaan dan penggarapan hutan desa (bukan TNKS) dilakukan dengan sistem “bacong alas”.  Masyarakat di desa ini juga selalu berkonsultasi dengan unsur-unsur perangkat desa, apabila bermaksud membuka hutan.  Masyarakat Desa Pulau Kidak, sangat menghormati kawasan hutan Sungai Kutu, karena dipercaya sebagai hutan keramat.  Di desa ini masih terdapat hutan marga yang pembukaan dan pengolahannya (luas maksimum 2 hektar) dapat dilakukan oleh pasangan muda dengan seizin pemuka adat.   Berbagai sistim pungutan (bea tebang, bea pungut hasil dan bea ladang) dilakukan untuk pengaturan pemanfaatan sumber daya hutan.  Di desa Napal Licin, ditemukan sistim pengolahan ladang berpindah dengan selang rotasi 12 tahun. Pengambilan sarang burung walet di goa-goa hanya boleh dilakukan dengan menggunakan gunting, dan pada sarang yang tanpa telur atau sedang dierami.  Di desa Kuto Tanjung ditemukan adanya kearifan pemanfaatan tanah adat yang khusus untuk perladangan.  Pada lokasi tanah adat dilarang ditanami tanaman keras.  Masyarakat di desa ini juga sangat pantang menggunakan racun untuk menangkap ikan, dan ini merupakan salah satu larangan adat yang sangat dipatuhi.  Masyarakat desa ini mempunyai pemikiran bahwa penggunaan racun (tuba) akan menghabiskan seluruh populasi ikan, baik yang berukuran besar ataupun kecil.  Adanya kepercayaan terhadap kekeramatan hutan Bukit Sabit, menyebabkan hutan tersebut tetap bertahan dan tidak mengalami gangguan.

 

 

Home