Welcome to Ardi's Web

Home Up

Kepunahannya Tinggal Menghitung Hari, Banteng Sancang Lenyap ”Ditelan Bumi”

Sumber: Pikiran Rakyat
Rabu, 10 April 2002

BANTENG yang menghuni Leuweung Sancang di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, populasinya dari tahun ke tahun terus merosot tajam. Kini, berdasarkan laporan BKSDA Jabar II, jumlahnya diperkirakan tinggal 13 ekor. Padahal pada tahun 1970, jumlahnya tercatat mencapai lebih dari 100 ekor. Bahkan, angka 13 itu pun masih diragukan kebenarannya. Sebab, menurut Lili, penduduk Kampung Sukalaksana, Desa Sancang, Kecamatan Cibalong, sudah hampir dua tahun terakhir, belum pernah melihat lagi Banteng Sancang berkeliaran di hutan. "Kira-kira sejak tahun 1999, Banteng Sancang seolah lenyap ditelan bumi. Mungkin penyebabnya karena makin meningkatnya penjarahan hutan," kata Lili, penduduk asli Sancang.

Biasanya penduduk yang tinggal di pinggiran Hutan Sancang, tiap pagi dapat melihat Banteng Sancang yang bernama latin Bos Sondaicus itu berkeliaran mencari rumput di sekitar Pantai Cibalong. "Pada tahun 1980-an, orang masih begitu mudah melihat banteng. Hampir tiap pagi, banteng-banteng secara berkelompok mencari rumput. Bila tahu ada manusia, biasanya mereka lari ketakutan," ungkap Momo, masih saudara Lili kepada Priangan. Apa yang diungkapkan Momo dan Lili tersebut dibenarkan Kepala Resort Sancang Timur, Cita Asmara (36) yang telah dua tahun bertugas di Sancang. Berdasarkan pengakuannya, sampai sekarang dirinya belum pernah sekalipun melihat Banteng Sancang. "Tapi kalau masyarakat, katanya sih pernah ada yang melihat banteng-banteng itu lewat," ujarnya.

Tentu saja laporan itu mengejutkan semua pihak. Sebab, selama ini berbagai pihak yang terkait dengan upaya pelestarian hewan yang termasuk dilindungi ini, tengah gencar melakukan kegiatan. Merosotnya populasi Banteng Sancang, diduga akibat habitatnya telah dirusak manusia. Luas Cagar Alam Sancang yang tinggal 30 persen dari luas keseluruhan 2.157 hektar, diperkirakan menjadi penyebab utama menurunnya populasi jenis banteng yang hanya ada satu-satunya di Indonesia tersebut. Perburuan liar dan meletusnya Gunung Galunggung tahun 1982 lalu, juga ikut andil terhadap semakin langkanya Bos Sondaicus ini.

Terakhir, menurut keterangan Polhut Satgas BKSDA Jabar II, Ardi Andono, petugas Polhut berhasil mengamankan tiga orang pemburu asal Bandung beserta senjata api laras panjang. Mereka ditangkap karena kedapatan tengah berupaya melakukan perburuan Banteng. Tiga orang pemburu warga Bandung itu, saat ditangkap petugas, tidak bisa menunjukan surat izin berburu. Ardi merasa prihatin atas ulah pemburu liar yang masih saja terus memburu Banteng Sancang. Padahal populasinya sudah sangat terancam. Bila perburuan masih terus berlangsung dan perambahan hutan tidak dapat dihentikan, maka kepunahan hewan bertubuh besar itu, tinggal menghitung hari. "Bisa-bisa anak cucu kita hanya tahu Banteng Sancang dari cerita saja," imbuhnya.

Padang rumput
Menurut keterangan Ardi, biasanya banteng-banteng itu dapat ditemukan di empat tempat padang rumput penggembalaan Hutan Sancang. Sayangnya tempat yang luasnya mencapai 34 hektar tersebut, kini telah berubah fungsi menjadi ladang garapan petani. Karena fungsi padang rumput telah berubah, membuat banteng-banteng terdesak dan terpaksa mencari makan lebih ke dalam hutan sehingga kelompoknya semakin terpecah-pecah. Jumlah Banteng Sancang yang masih tersisa itu diperkirakan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari enam ekor dan kelompok kedua tujuh ekor. "Terus terang, kami sendiri belum pernah lagi melihat Banteng Sancang berkeliaran. Sehingga sulit menetukan jumlah jantan dan betinanya. Namun yang kami temukan hanya berupa jejak kaki dan kotorannya saja di blok Cibakola dan Cipalawah. Jadi perhitungan 13 ekor itu dari jekak kaki dan kotoran, selain laporan dari masyarakat yang pernah melihat sekelompok banteng," kata Ardi.

Tak hanya banteng yang jumlahnya tidak jelas. Sebab, Hutan Sancang yang berjarak sekitar 118 km dari Kota Garut tersebut selain sebagai kawasan konservasi, juga mempunyai jenis-jenis spesies langka yang tak ternilai harganya. Spesies ini, sekarang kondisinya pun sama-sama memprihatinkan. Fauna yang khas selain Banteng Sancang yang dapat ditemui di sana adalah, Burung Merak (Papo Muticus) dan Mencek (Muntiacus Muntjak). Sementara jenis flora yang khas yang terdapat di cagar alam Sancang antara lain, Palahlar (Dipterocarpus Spec.div), Kaboa (Dipterocarpus Gracilis), Werejit (Excoecaria Agallocha. Linn) dan flora pantai seperti Agar-agar Laut (Gracilaria. Sp), Rambu Kasang (Afluda Mutica), Paris (Myrophyllum Brasiliensis) dan Kades (Gelidium Lam).

Berdasarkan data IUCN (1972), jenis-jenis fauna langka seperti banteng termasuk kategori Vurnerable, artinya, populasinya sedang mengalami penurunan dengan sangat cepat. Hal tersebut karena pengaruh habitat banteng yang semakin menyempit. Kepunahan Banteng Sancang dan jenis fauna lainnya bagaimanapun juga merupakan imbas dari perusakan Hutan Sancang. Padahal pemerintah telah melakukan berbagai daya upaya menyelamatkan Hutan Sancang beserta isi yang terkandung di dalamnya. Di antaranya, menetapkan Leuweung Sancang sebagai kawasan cagar alam berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor : 116/Um/1959 tanggal 1 Juli. Yang dimantapkan lagi dengan SK No. 9470/SK/M tanggal 5 Oktober 1961. Sayangnya upaya yang dilakukan pemerintah beserta pihak-pihak yang peduli terhadap pelestarian flora dan fauna mengalami berbagai hambatan. Kurangnya kesadaran masyarakat semakin memperburuk kondisi Hutan Sancang. Jadi, bila Hutan Sancang sudah rusak sedemikian parah, artinya, kepunahan Banteng Sancang tinggal menghitung hari. Semoga tidak terjadi! (Dicky Mawardi/Priangan)***

 

 

Home