|
Potensi Tersembunyi "Marine Carbon Sink" Benua Maritim Indonesia
Edvin Aldrian
Potensi serap karbon oleh laut dikenal dengan potensi
biogeokimia laut. Ilmu yang diterapkan dalam pemahaman ini merupakan
gabungan ilmu dari berbagai disiplin ilmu.
Selain pemahaman ilmu biologi, geologi, dan kimia, juga
diperlukan pemahaman ilmu kelautan, meteorologi, fisika dinamik, dan
inderaja.
Ilmu kelautan diperlukan untuk memahami proses dinamika laut
seperti arus laut, ilmu meteorologi diperlukan untuk mengetahui
proses dinamika atmosfer lokal yang mendorong dinamika di laut. Ilmu
fisika dinamik diperlukan untuk pemahaman sifat dinamika di laut dan
atmosfer di atasnya, sedangkan teknologi inderaja diperlukan untuk
mengetahui kandungan plankton baik phyto dan zooplankton serta micro
biota lainnya dipermukaan yang merupakan agen penyerap karbon utama
di muka laut.
>small 2small 0< penyerapan karbon dapat diterangkan
berikut ini.
Gas-gas rumah kaca yang terserap di atmosfer akan diserap oleh
proses fotosintesis plankton dan turun ke dasar samudra setelah
berasosiasi dengan elemen berat hasil metabolisma di tubuh plankton
tersebut.
Proses sederhana ini terjadi di permukaan laut dan membutuhkan
beberapa syarat seperti cukupnya sinar matahari untuk proses
fotosintesa dan nutrisi di permukaan laut untuk mendukung
pertumbuhan plankton di permukaan laut.
Dua zat penting yang mendukung keberadaan populasi plankton
adalah zat nitrat dan fosfat. Selain itu, juga dikenal peran dari
silika dan zat besi. Keberadaan zat nitrat dapat diketahui dengan
data satelit inderaja seperti data AVHRR (Advance Very High
Resolution Radiometer).
Sebagai sumber nutrisi utama, sumber nitrat dan fosfat dapat
dari proses dinamika di lautan seperti proses upwelling, tambahan
dari partikel yang terbang seperti debu dari gurun pasir dan letusan
gunung berapi, atau dari sumbangan polusi industri manusia yang
bermuara di laut.
Dari data di atmosfer telah diketahui bahwa letusan gunung
berapi selalu berfungsi menurunkan suhu di atmosfer secara global,
meski penelitian belum mencapai kesimpulan peran dari debu gunung
berapi terhadap produksi plankton serta metabolismanya di permukaan
laut.
Pengetahuan tentang peran logam berat seperti besi dalam upaya
pendinginan global oleh proses metabolisme plankton di permukaan
laut barulah dimengerti dalam dekade terakhir.
Adalah almarhum John Martin yang memperkenalkan hipotesa besi
(the Iron Hypothesis) dalam proses pendinginan global pada tahun
1989.
Salah satu hipotesa yang merupakan tantangannya kepada dunia
dalam mengatasi masalah pemanasan global adalah sesumbarnya yang
dapat menghadirkan era es (the ice age) kembali di muka bumi apabila
dia diberikan setengah tanker biji besi.
Biji besi itu akan ditaburi di lautan Pasifik dan akan menambah
populasi plankton dengan drastis dan menyebabkan meningkatnya
penyerapan karbon dari atmosfer.
John Martin tidak pernah membuktikan kebenaran teori besinya
karena lebih dahulu meninggal akibat kanker prostat. Pada tahun yang
sama John meninggal, 1993, eksperimen untuk membuktikan teori John
Martin dilakukan oleh beberapa peneliti di sekitar kepulauan
Galapagos di Samudra Pasifik.
Hasil dari berbagai penelitian, yang mendukung teori John
Martin, di kepulauan tersebut diterbitkan dalam sebuah edisi khusus
jurnal kelautan terkemuka dunia yaitu Deep Sea Research pada tahun
1998 dan dibuat untuk mengenang John Martin.
>small 2small 0< diberitakan Kompas (19/7/2004), di
atmosfer Bumi saat ini mengandung sekitar 380 ppm (parts per
million) karbon dioksida. Jumlah ini jauh lebih banyak dibanding
angka 280 ppm pada tahun 1800.
Namun, angka tersebut ternyata hanya separuh dari
CO>subscript<2>res<>res< yang dilepaskan ke udara selama periode
1800 hingga sekarang, sehingga para ilmuwan menduga sisanya telah
diserap lautan.
Menurut Christopher L Sabine, peneliti National Oceanic and
Atmospheric Administration (NOAA), secara keseluruhan, antara tahun
1800 hingga 1994, lautan menyerap 118 miliar metrik ton karbon yang
sebelumnya dibuang ke udara.
Kembali ke benua maritim Indonesia, produksi plankton dan
perannya terhadap produktivitas ikan bagi kepentingan penangkapan
ikan di Indonesia telah lama dibahas.
Akan tetapi, dampak produksi populasi plankton terhadap proses
biogeokimia di lautan Indonesia belum dikaji atau dijadikan
pembahasan.
Kekurangan minat serta pakar yang mendalami hal ini menjadi
permasalahan tersendiri. Padahal pengkajian hal baru ini sangat
diperlukan dalam melihat potensi serap karbon lautan Indonesia.
Pada bulan Maret 2004, pantai teluk Jakarta tiba-tiba memerah
yang dikenal dengan istilah gelombang merah (red tide). Perkembangan
ini lebih dikarenakan tingginya polutan zat-zat berat hasil limbah
industri yang bermuara di teluk tersebut.
Keberadaan limbah berat itu telah meningkatkan populasi
ganggang merah (red algae) yang pada akhirnya memerahkan teluk.
Tanpa diketahui dan dibahas lebih lanjut, sebenarnya pada saat itu
logam berat hasil limbah telah dikonsumsi oleh red algae dan melalui
proses metabolisme telah diendapkan ke dasar laut.
Peristiwa lokal tersebut sebenarnya membuktikan kebenaran teori
John Martin dalam skala kecil, meski tidak ada kajian sama sekali
mengenai kemungkinan penyerapan gas rumah kaca atau siklus karbon
dalam proses gelombang merah tersebut.
Penyerapan karbon oleh lautan tidak hanya dapat dilakukan
dengan cara menebar polutan seperti logam berat di atas. Karena efek
negatif yang mungkin ditimbulkan dari penebaran polutan tersebut
seperti pengrusakan di dasar laut akibat meningkatnya kandungan
logam berat yang diendapkan.
Proses lain yang mungkin adalah dinamika di laut yang
menyebabkan terjadinya upwelling. Upwelling adalah dinamika lautan
di mana terjadi kenaikan masa air dari dasar laut ke permukaan.
Upwelling membawa konsekuensi menaiknya nutrisi dari dasar laut
ke permukaan. Salah satu indikasinya adalah meningkatnya populasi
ikan setelah terjadinya upwelling. Ikan tersebut berkumpul bukan
karena meningkatnya nutrisi dari dasar laut, tetapi karena
meningkatnya plankton dan hewan kecil yang menegak nutrisi tersebut,
dan plankton serta hewan kecil tersebut merupakan makanan utama
ikan-ikan yang lebih besar.
Selain upwelling, peristiwa sebaliknya yaitu downwelling juga
berguna bagi siklus karbon di permukaan laut yaitu mempercepat
sirkulasi arus laut dari permukaan ke laut dalam yang membantu
mempercepat proses pengendapan karbon.
Melalui dinamika di atmosfer dan permukaan laut dapat diketahui
daerah-daerah yang berpotensi terjadinya upwelling dan downwelling.
Hal ini dapat diketahui dari pola angin dan morfologi dasar laut.
Ada
dua hal penting yang perlu disadari dalam dinamika atmosfer dan laut
yang merupakan potensi utama dari benua maritim Indonesia.
Pertama adalah sirkulasi atmosfer yang bersifat musiman
sehingga terjadi sirkulasi yang terus-menerus sepanjang tahun secara
bolak balik. Potensi angin musiman ini menyebabkan terjadinya
wilayah khusus downwelling atau upwelling pada musim-musim tertentu.
Selain dinamika musiman atmosfer tersebut, dinamika di laut dalam
benua maritim Indonesia sangat dipengaruhi oleh adanya sirkulasi
laut global yang melalui wilayah Indonesia.
Sirkulasi global yang dikenal sebagai arus sabuk lintas dunia
(the Great Conveyor Belt) melalui wilayah Indonesia yang dikenal
sebagai arus lintas Indonesia (Arlindo). Arlindo merupakan aliran
arus terus-menerus dari Samudra Pasifik ke Samudra Indonesia dan
merupakan saluran air permukaan yang mengumpul di daerah kolam
hangat di sebelah utara Pulau Papua.
>small 2small 0< diperhatikan dari teori penyerapan
karbon di atas, yang mengharapkan adanya penyerapan dari muka laut
menuju laut dalam, maka Arlindo adalah arus ideal yang melintas
wilayah Indonesia. Lintasan Arlindo sering kali melalui wilayah
sempit dan dangkal yang menunjang terjadinya downwelling setelah
melewatinya seperti di selat Makassar, selat Lombok, selat
Lifamatola, dan selat Ombai. Salah satu indikasinya adalah munculnya
gelombang gravitasi yang terekam pada citra satelit di muara selatan
selat Lombok.
Dengan menggabungkan informasi kelautan dan iklim seperti di
atas beserta kajian proses biogeokimia yang terjadi dapat memberikan
gambaran potensi laut benua maritim Indonesia dalam menyerap karbon
dari gas-gas rumah kaca.
Hasil kajian ini merupakan masukan penting dan amunisi utama
bagi Indonesia dalam perdagangan karbon dunia. Perlu diketahui,
memasukkan unsur penyerapan laut dalam perdagangan emisi tidak lazim
dilakukan pada pelaksanaan protokol Kyoto, hal ini tidak lain
dikarenakan tidak adanya inisitatif dari negara kepulauan seperti
Indonesia.
Berhubung perdagangan emisi akan dihubungkan dengan remisi
karbon berupa insentif yang mungkin diterima sebuah negara, maka
kajian potensi kelautan Indonesia dalam menyerap karbon harus segera
dilakukan dan dimasukkan dalam perhitungan emisi lokal disamping
penyerapan oleh hutan.
Edvin Aldrian
Peneliti
UPTHB-BPPT, Peraih International Young Scientist START Award 2004
|